Selamat Datang di Website Resmi Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat
Home »

SEKILAS TENTANG PERKEBUNAN
15 November 2007 00:00:00 0
Penulis : Kepala Seksi Data dan Informasi

Di era otonomi daerah ini keberadaan pengelolaan perkebunan semakin tidak dilirik terutama di daerah Kabupaten/Kota, sementara ini seluruh kegiatan bidang perkebunan di Kabupaten/Kota sebagian besar masih mengharapkan bantuan dari tingkat provinsi, sehingga menyalahi kebijakan Mendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah serta Pergub No. 44 Tahun 2006 tentang Juknis Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah di Provinsi Jawa Barat Tahun 2007.  Bersamaan dengan seluruh kegiatan yang harus dilaksanakan secara optimal, SDM yang tersedia dan yang ditempatkan di bidang perkebunan tidak sesuai dengan disiplin ilmu.

Jika melihat kebelakang bahwa negara kita ini awalnya merupakan negara agraris yang kaya akan komoditi perkebunan.  Sejarah menceritakan bahwa perdagangan merupakan unsur utama yang mendorong berkembangnya usaha perkebunan di suatu wilayah.  Hal ini menunjukkan bahwa pasar merupakan katup pembuka dan penutup usaha perkebunan.  Pengembangan usaha perkebunan di Kepulauan Nusantara telah berkembang sejak berabad-abad yang lalu, sejalan dengan perkembangan peradaban manusia sebagimana yang disaksikan di Timur Tengah, Cina dan India.  Persentuhan kebudayaan dengan bangsa-bangsa Eropa dimulai pada abad pertengahan yaitu dengan pengusaha bangsa Portugis atas Malaka pada tahun 1511.  Pada tahun 1596 kapal Belanda yang dinakhodai oleh Cornelius de Houtman mendarat di Banten.  Perkebunan Kelapa dan Tebu, sebagaimana digambarkan di dalam mitologi India, telah dikenal di wilayah Nusantara ini sejak tahun 75 Masehi, sedangkan tanaman perkebunan seperti Karet, Teh, Kopi, Kakao, Kelapa Sawit yang bukan tanaman asli wilayah ini, baru dikenal belakangan, yaitu pada abad XIX, bersamaan dengan ekspedisi bangsa Eropa.  Tanaman Karet paling tua ditemukan di Subang (Jawa Barat), yang ditanam pada tahun 1862.  Tanaman Teh mulai dikembangkan tahun 1824, Kelapa sawit tahun 1848 tetapi baru berkembang pesat pada akhir abad 20 ( tahun 1980-an ), dan Kina tahun 1855.  Tanaman Kakao sebenarnya sudah dibawa oleh bangsa Spanyol ke Indonesia melalui Philipina tahun 1560 dan Kopi tahun 1616, tetapi pertanaman Kakao dan Kopi hancur terserang penyakit karat daun pada tahun 1878.  Pertanaman Kakao ini baru bangkit kembali mulai tahun 1980-an yang    diusahakan oleh perusahaan besar maupun rakyat. Di Jawa Barat pelaksanaan pengembangan kakao yang diusahakan melalui perkebunan rakyat dimulai  tahun 1992/93 sampai dengan 1995/1996 tersebar di kabupaten Ciamis dan Sukabumi dengan luas areal sekitar 2.000 Ha melalui program pemerintah yang disebut P2WK (Proyek Pengembangan Wilayah Khusus) dan PSSP (  Pengembangan Sarana Prasarana Perkebunan).

            Era pembangunan perkebunan pasca kolonialisme, tepatnya tahun 1977 dilaksanakan pola  Perusahaan Inti Rakyat (PIR) ,BUMN perkebunan yang diharapkan  dapat mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat khususnya para petani pekebun.

Program pemerintah terhadap pengembangan komoditi perkebunan rakyat dilaksanakan dalam berbagai kegiatan yang dikelola melalui pola Unit Pelaksana Proyek (UPP) dan pola Swadaya. Namun jangkauan terhadap perkebunan rakyat melalui kegiatan pola UPP dan  PIR dimaksud masih terbatas sehingga sebagian besar pengelolaan perkebunan rakyat masih secara swadaya.

Khusus untuk pengembangan tebu rakyat melalui Program TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi ) dimulai tahun 1975  atas dasar Inpres Nomor 9. Program ini diakhiri tahun 1997 yaitu dengan dikeluarkannya Inpres Nomor 5 Tahun 1997 Jo Inpres No 5 Tahun 1998. Selanjutnya ditindak lanjuti pengembangan Tebu melalui program PBSN mulai tahun 1976 yaitu pemberian kredit lunak bagi para investor swasta yang mengusahakan perkebunan dalam skala besar. 

Kinerja perkebunan di Indonesia sejalan dengan perjalanan sejarah diatas,  secara kuantitatif tampak berkembang.  Luas areal perkebunan secara total bertambah dari 5 juta Ha pada tahun 1968 menjadi 14,2 juta Ha pada tahun 1998.  Namun sejalan dengan perubahan jumlah penduduk yang semakin meningkat pesat maka lahan-lahan perkebunan mengalami penurunan akibat terdesak oleh kegiatan untuk memenuhi  kebutuhan sandang pangan papan masyarakat yang mengalihfungsikan lahan perkebunan  tersebut, sehingga luas areal menjadi sekitar 13 juta Ha pada tahun 2005 ( lahan-lahan untuk komoditi unggulan nasional ), sesuai dengan hasil penelitian dari Tim Peneliti Universitas Padjadjaran pada seminar tentang  Masa depan lahan pertanian, bahwa lahan pertanian setiap tahunnya berkurang sekitar 20.000 Ha.

Melihat perkembangan areal tersebut setelah berlakunya otonomi daerah akankah bertahan keberadaan areal perkebunan kedepan? Ataukah akan semakin kerkurang bahkan menghilang ? Karena di era otonomi ini Lembaga yang menangani bidang perkebunan di daerah memiliki  nomenklatur yang berbeda bahkan nama perkebunanpun tidak nampak, sehingga kebijakan terhadap pembangunan perkebunan  terasa kurang perhatian ( tidak optimal ). Padahal fungsi komoditi perkebunan  memiliki kontribusi  yang sangat besar peranannya sebagaimana disebutkan dalam Tri Dharma Perkebunan.

 Hal ini merupakan tantangan khususnya bagi penulis dan umumnya para pengambil kebijakan serta seluruh stakeholder yang peduli terhadap bidang perkebunan. Bagaimana caranya untuk mempertahankan kelangsungan keberadaan bidang perkebunan menyangkut pengelolaan komoditi, petani, lembaga ekonomi dan pengusaha perkebunan ( PBS, PTP ) di Jawa Barat khusunya dan di Indonesia pada umumnya, agar tetap eksis dalam kontribusinya terhadap kesejateraan rakyat.

 

 

 

Catatan Khusus dari Penulis :

Sebelum kita meninggalkan alam fana ini janganlah mewariskan air mata kepada anak cucu kita, tetapi wariskanlah mata air.  Maka janganlah mewariskan lahan tandus tetapi kembangkanlah komoditi perkebunan, karena hal itu merupakan salah satu upaya dalam melindungi sumber-mata air.

 

DAFTAR  PUSTAKA :

1.      Buku Statistik Pertanian Tahun 2005, Departemen Pertanian Tahun 2006.

2.      Membangun Perkebunan Abad 21, Direktorat Jenderal Perkebunan 1999.

3.      Berbagai Sumber

.

Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat | File : | Dibaca : 970 x

Sorotan Terkait



Form Komentar Sorotan Kita

Punya komentar terhadap berita ini?! tuliskan komentar anda terhadap berita di atas.


Index Sorotan

Teh India Kuasai Pasar Dunia

07 Mei 2012 13:00:55

NEW DELHI, (PRLM).- Teh merupakan minuman paling populer di India pada saat ini dan beberapa tahun mendatang, akan secara resmi mendapatkan persetujuan untuk menjadi minuman nasional negara itu. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, muncul banyak kecurigaan dan kekhawatiran. Kebijakan kolonial Inggris pada awal abad 19, membuat India menjadi produsen teh terbesar di dunia sampai 2006, sebelum digantikan oleh Cina. Tetapi, berbeda dengan Cina, sebagian besar orang India tidak memiliki tradisi minum teh.

Pemakan Cokelat Lebih Langsing?

17 April 2012 13:10:55

KOMPAS.com -Ini adalah kabar baik bagi para penggemar cokelat. Riset terbaru mengindikasikan, mereka yang rutin mengudap cokelat memiliki tubuh yang lebih ramping ketimbang mereka yang jarang mengonsumsinya. Ilmuwan dari University of California, San Diego, Beatrice Golomb, MD, PhD beserta timnya menemukan bahwa orang dewasa yang makan cokelat secara teratur cenderung mempunyai badan yang lebih langsing ketimbang yang tidak.

Kopi Tanpa Kafein Lindungi Memori Penderita Diabetes?

08 Februari 2012 13:40:42

Secangkir kopi di pagi hari tidak hanya membantu membangkitkan semangat seseorang. Tetapi juga dapat merangsang otak di pagi hari untuk mulai beraktifitas. Menurut sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh sekolah medis terkenal, Mount Sinai School di New York ditemukan fakta baru seputar kopi.

Cokelat bisa membunuh rasa bosan

17 Januari 2012 13:07:53

Jakarta (Antara News) - Satu hasil penelitian menyebutkan bahwa seperempat pekerja yang merasa sudah sangat bosani, dapat mempengaruhi kualitas kerja dan kesehatan fisik serta mental mereka. Para peneliti Inggis menanyai 102 pekerja kantoran, dengan pertanyaan apakah mereka bosan di tempat kerja dan bagaimana mengatasi kebosanan itu. Berdasarkan survei tersebut, 25 persen yang mengaku mengalami kebosanan kronis, acap mengkonsumsi cokelat dan meminum kopi untuk mengatasinya, sementara para pekerja yang apatis lebih senang mengatasinya dengan meminum alkohol sepulang kerja.

 < 1 2 3 4 5 >  Last ›